Duka di Tanah Peusangan, Layunya "Giri Matang"

Tampak beberapa pohon "Giri Matang" usai dihantam banjir bandang beberapa waktu lalu.

Peusangan - Di penghujung November 2025, tepatnya pada 26 November 2025, sebuah nuansa kontras yang begitu nyata terjadi di wilayah Ampon Chiek Peusangan.

Bulan sebelas yang seharusnya menjadi jembatan penutup bulan masehi 2025 yang tenang,  tetapi justru telah  meninggalkan luka mendalam bagi sejumlah desa di wilayah kewedanan Peusangan, bahkan merembet ke beberapa kabupaten/kota lain di Provinsi Aceh. 

Luka dengan simbol bencana Hidrometeorologi datang tanpa ampun, menyisakan duka yang tak mudah diucapkan dengan kata-kata.

Di tengah duka itu, Selasa, 9 Desember 2025, langit di atas wilayah Ampon Chiek Peusangan tampak begitu cerah. Tak setitik pun awan gelap bergelayut, tak ada rona hitam yang mencoreng birunya angkasa. Alam seakan lupa, atau mungkin sengaja menampakkan wajah terbaiknya, sementara di bawahnya, air mata masih belum kering dan luka juga masih menganga .

Di satu sisi, langit membentang terang dan tenang, karena awan terus menari-nari kesana kemari. Di sisi lain, sisa-sisa banjir masih membekas dalam diam di desa-desa yang kami lalui. Duka itu nyata, terasa, dan membisu di sepanjang perjalanan.

Bencana tersebut telah merenggut banyak hal: harta benda, mata pencaharian, bahkan nyawa sekalipun. Yang lebih menyayat, sebagian warga kehilangan semangat dan harapan untuk kembali menata hidup.

Atas dasar rasa kemanusiaan, solidaritas, dan upaya menumbuhkan kembali semangat persaudaraan, semnagat harapan. 

Maka pada pagi menjelang siang, Selasa, 9 Desember 2025, saya bersama beberapa dosen dan staf kampus yang tergabung dalam Tim Satgas Bencana Hidrometeorologi Universitas Almuslim, bergerak menuju Peusangan Siblah Krueng salah satu kecamatan  paling merasakan dampak banjir 26 November lalu.

Kami berangkat dari kampus, melintasi Simpang Empat Gle Kapai, kemudian menyusuri jalan kabupaten dengan melewati  desa Blang Panjou dan Pante Lhong.

 Desa-desa ini adalah saksi bisu kedahsyatan banjir 26 November 2025, tempat di mana air bercampur lumpur  datang dengan kekuatan yang tak bisa dilawan.

Misi pagi itu sederhana namun penuh harap yaitu  menyerahkan sedikit bantuan dari para donatur yang disumbangkan  melalui posko Universitas Almuslim Peduli kepada masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di Peusangan Siblah Krueng.

Sepanjang perjalanan, mata kami disuguhi pemandangan yang memilukan. Di Blang Panjou, Pante Lhong, dan beberapa desa di seberang sungai Pante Lhong kecamatan Peusangan Siblah Krueng, bukti dan sisa kehancuran masih jelas terlihat.

Pante Lhong, yang dikenal sebagai sentra produksi buah Pamelo, kini tampak muram, pohon-pohon yang dulu berbuah lebat tak luput dari amukan banjir.

Desa Pante Lhong yang dahulu asri, hijau, dan sejuk, terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan, kini berubah total. Perkampungan porak-poranda, rumah-rumah, kebun, dan harta benda warga telah disapu air berlumpur, yang ada hanya  menyisakan kehampaan.

Dari atas mobil bak terbuka, di balik tumpukan bantuan bencana, mata saya tertuju pada deretan pohon Pamelo yang masih berdiri, batangnya kokoh,, namun daun-daunnya mulai layu, seolah lelah menopang luka yang tak pernah mereka minta.

Pekarangan rumah rata dengan jalan, bagian dalam rumah dipenuhi lumpur. Pot-pot bunga berserakan, taman kehilangan keindahannya. Yang paling menyayat hati adalah rusaknya ikon kebanggaan daerah pohon Boh Giri Matang (Pamelo) yang meruoakan ikon khas dan kebanggaan masyarakat bumi Ampon Chiek Peusangan.

"Boh Giri Matang" bukan sekadar tanaman. Ia adalah identitas, kebanggaan, dan sumber penghidupan warga Pante Lhong dan masyarakat sekitar. Buah ini tumbuh subur hanya di wilayah Matangglumpang Dua, khususnya Pante Lhong dan beberapa desa sekitar.

Kini, desa penghasil komoditas unggulan itu harus menerima kenyataan pahit. Pohon-pohon yang dulu menjadi primadona, kini berdiri tegak dengan daun mulai menguning dan layu dan menjadi saksi bisu dari bencana yang datang tanpa aba-aba.

Batang-batang Boh Giri Matang tertimbun pasir dan lumpur, ada  daun-daunnya hijau mulai menghitam. Buah-buah besar yang seharusnya ranum dan membanggakan, kini mengerut, layu, seakan kehilangan denyut kehidupan.

Pemandangan serupa juga terlihat di desa-desa seberang sungai seperti desa Kubu, Teupin Raya, Pante Baro, dan sekitarnya, semua menyimpan luka yang sama.

Saat kami melewati desa tersebut sebagian warga tampak sibuk membersihkan puing dan lumpur di sekitar rumah. Sebagian lain masih bertahan di lokasi pengungsian. Ada pula yang terduduk lesu di atas gundukan pasir berlumpur, menatap kosong sisa-sisa dahan dan buah Pamelo yang dulu menghijau di halaman rumah mereka.

Kini yang tersisa hanyalah tatapan nanar wajah-warga yang memantulkan kesedihan mendalam atas hidup yang berubah dalam hitungan menit.

Namun sebagai umat beragama, di balik gelapnya duka, padamnya cahaya, layunya daun bak giri. Bencana ini harus dipandang sebagai sapaan, cobaan, sekaligus ujian dari Yang Maha Kuasa.

Mungkin Tuhan sedang menguji keteguhan hati kita, menguji ketangguhan akar iman di dada, seperti seberapa kuat akar Pamelo di tanah indatu Ampon Chik Peusangan, dalam  menata kembali  langkah dalam kehidupan yang baru.

Kita diajak untuk tidak larut dalam kesedihan, menjadikan musibah ini sebagai momen muhasabah dan merenungi diri, memperbaiki langkah, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Kita tidak boleh terus terpaku pada "Boh Giri Matang" yang mulai berkerut, lalu menghitam dan terabaikan di pokok pohon yang mulai layu. Tetapi kita harus tetap berdiri, setegak batang Pamelo, dengan akar yang kian mencengkeram kedalam tanah.

Semoga pohon-pohon "Boh Giri Matang" tumbuh kembali, menghiasi setiap halaman dan pekarangan rumah. Semoga pula warga yang memilikinya tidak larut dalam kegetiran dan kesedihan, tetapi bangkit perlahan, berdiri tegak  dengan semangat baru.

Karena setiap manusia pasti diuji, terimalah ujian ini sebagai teguran untuk memperbaiki diri, agar ke depan menjadi lebih baik, lebih kuat, dan lebih berserah.

Tidak perlu meratapi kehilangan terlalu lama. Mari kita bangun kembali harapan, menata hidup, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Mari berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Kita berharap Boh Giri Matang akan kembali bertunas, dedaunnya kembali menghijau, menyejukkan mata dan menenangkan jiwa, serta 
mengembalikan senyum dan harapan para cucu Ampon Chiek Peusangan.